Direktur Krakatau Steel Terseret Rp 20 juta ke Penjara

KPK bergerak dengan cepat ketika mendapat informasi bahwa terkait dugaan mengenai penyerahan uang terhadap salah satu petinggi PT Krakatau Steel. 4 orang diringkus pada dua tempat di hari Jumat 22 Maret 2019 sore. Dua orang tersebut termasuk Direktur Produksi dan Riset Teknologi PT Krakatau Steel, yakni Wisnu Kuncoro, yang dilanjutkan dengan dua orang lainnya pada hari esoknya.

Mereka semua digiring ke KPK untuk mendapat pemeriksaan secara intensif. Dari pemeriksaan tersebut terungkap ada permintaan uang terhadap kontraktor dari orang yang bertindak sebagai broker proyek tersebut. Alexander Muskitta, meminta uang Rp50.000.000,00. kepada Kenneth Sutardja dari PT Grand Kertech dan Rp100.000.000,00 kepada Kurniawan Eddy Tjokoro dari PT Group Tjokro untuk bisa menjadi rekan Krakatau Steel.

Pengadaan dan Peralatan bernilai Rp 24 Miliar dan Rp 2,4 Miliar

Dalam pengadaan barang dan peralatannya, masing-masing bernilai Rp 24 miliar dan Rp 2,4 miliar. Saut Situmorang yang merupakan wakil ketua KPK mengatakan bahwa Alexander bertindak sebagai perwakilan dan mengatasnamakan Wisnu Kuncoro. Dia menyepakati commitment fee dengan rekan yang telah ia tunjuk tersebut, yakni dia akan mendapatkan 10% dari nilai kontrak tersebut.

Pada 20 Maret 2019, Alexander menerima cek sebesar Rp50.000.000,00 dari Kenneth, lalu disetorkan kepada Alexander. Alexander juga menerima uang $4.000 dan Rp45.000.000,00 dari Kurniawan di sebuah kedai kopi. Uang itu kemudian dimasukkan ke rekening Alexander. Mirisnya, kebanyakan uang masuk ke kantong Alexander dan sang direktur hanya mendapatkan bagian Rp20.000.000,00 saja.

Hasil Pemeriksaan Tertangkap 4 Tersangka

Dari hasil pemeriksaan tersebut, KPK pun menetapkan ke empatnya sebagai tersangka. Dan dua orang lainnya yang ikut diamankan dan dilepaskan karena tidak terbukti terlibat. Sebagai orang yang diduga sebagai penerima, Wisnu dan Alexander Muskitta disangkakan melanggar pasal 12 huruf a atau huruf b atau pasal 11 UU No. 31 Tahun 1999

Sebagaimana yang telah diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 yang berisi tentang pemberantasan tindak pidana korupsi Pasal 55 ayat (1) ke-1 Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Sebagai pihak yang berperan sebagai pemberi Kenneth dan Kurniawan terjerat apsal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b, atau bisa juga pasal 13 UU No. 31 Tahun 1999.

Satu Orang Tersangka Masih Buron

Meski sudah mendapatkan 4 orang mangsa, namun satu tetap masih ada satu ran yang masih belum tertangkap, dia adalah Eddy Tjokro alias Yudi. Oleh sebab itu, Wakil ketua KPK, yakni Situmorang memperingatkan Kurniawan agar cepat menyerahkan dirinya ke Gedung Merah Putih KPK. Sementara itu, Direktur utama PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), Yakni Silmy Karim menyatakan mendukung penegakan hukum oleh KPK.

Hal ini seiring KPK telah berhasil menangkap salah satu direktur PT Krakatau Steel Tbk dalam sebuah Operasi Tangkap Tangan atau populer dengan OTT pada hari Jumat 22 Maret 2019. Silmy, sebagai pemimpin tertinggi dari Krakatau Steel mengatakan sangat prihatin pada anak buahnya yang diduga terlibat praktik pelanggaran hukum, yang membuat mereka diseret KPK.

Silmy juga menuturkan bahwa azas praduga tak bersalah harus ditegakkan. Dia juga menghormati proses hukum dan mendukung KPK dalam menegakkan hukum. Hal ini juga diungkapkan oleh Deputi Bidang Pertambangan, Industri Startegis dan Media Kementrian BUMN. Fajar melanjutkan, bahwa Kementrian BUMN mendukung upaya pemberian iformasi yang dilakukan oleh PT Krakatau Steel Tbk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *