Legenda dari Goa Kreo yang Bikin Liburan di Semarang Makin Seru

Kota Semarang menyuguhkan kekayaan budaya dalam suasana lebaran tahun ini. Ada tradisi budaya Sesaji Rewanda dan Mahakarya Legenda Goa Kreo. Kedua agenda tersebut membuat status Semarang sebagai “Full History Storytelling” pengembangan Heritage Tourism menjadi semakin kuat. Tradisi ini di serentak pada hari yang sama secara berurutan.

Tradisi Budaya Sesaji Rewanda dilaksanakan di Pelataran Goa Kreo mulai dari pukul 08.00 WIB. Parade budaya lalu dilanjutkan dengan Mahakarya Legenda Goa Kreo di Plaza Kandri Waduk Jatibarang. Agenda kedua ini dilaksanakan mulai pukul 19.00 WIB hingga selesai. Indriyasari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang mengatakan wisatawan memberikan respons yang sangat positif.

 

Event Meriah, Antusiasme Publik Luar Biasa

Indrayasari mengatakan bahwa event ini sangat meriah ditambah dengan antusiasme yang ditunjukkan oleh public pun luar biasa. Mereka sangat menikmati berbagai konten menarik yang disajikan. Ia yakin, bahwa kesan positif ini akan memberikan branding yang luar biasa bagi pariwisata Semarang. Bahkan pergerakan wisatawan akan semakin positif pada tahun ini.

Terdapat pesan khusus yang diusung dalam kegiatan yang satu ini. Masyarakat diingatkan mengenai potensi besar wisata sejarah dan juga warisan budaya yang dimiliki oleh Kota Lumpia. Konsepnya ini disajikan melalui seni drama, music, suara, dekoratif, tarian serta napakatilas. Napakatilasnya digelar di Watu Tenger, yakni Petilasan Sunan Kalijaga.

Selain itu, ada juga atraksi kirab Soko Jati dan sesaji pada kera. Semarang memang kaya akan history dan nilai dari budaya. Semuanya sangat luar biasa dan tentu saja menginspirasi. Kekuatan inilah yang mereka kemas dan dihidupkan kembali. Karena bagaimanapun semua sudah tahu bahwa Goa Kreo memiliki history yang besar yakni terdapat kekuatan sejarah dan religi.

Goa Kreo memiliki legenda yang terus hidup. Hal ini dikarenakan destinasi ini menjadi petilasan 4 sunan. Sunan tersebut terdiri atas Sunan Kalijaga, Sunan Ampel, Bonang dan Gunungjati. Berbagai ceritapun terus berkembang. Pada awal pembangungan Mesjid Agung Demak, Sunan Kalijaga untuk dijadikan saka guru atau tiang utama. Namun ada satu buah pohon yang sulit untuk ditebang.

Karena hal tersebut Sunan Kalijaga pun bersemedi di dalam goa. Saat bersemedi itulah, hadir 4 ekor kera menghampirinya. Kera tersebut memiliki warna yang berbeda-beda, ada yang berwarna hitam, putih, merah dan kuning. Dari komposisi tersebut ternyata tersirat sebuah makna. Hitam menjadi sebuah simbol kesuburan tanah, putih melambangkan kesucian, merah lambang keberanian dan kuning melambangkan angin.

 

Legenda Adat Istiadat Semarang

Cerita dari Goa Kreo ini terus berlanjut. Kawanan kera itu lalu mengajak Sunan Kalijaga ke sebuah tempat. Setelah ia bermunajad, ilham pun datang. Pohon yang sulit ditebang tadi ternyata bisa ditebang dengan menggunakan sebuah selendang yang dibawanya. Setelah menebang pohon, Sunan Kalijaga pun memiliki rencana untuk kembali ke Demak. Namun, kera tersebut ingin ikut.

Agar kera itu tidak ikut, Sunan pun meminta mereka untuk menjaga Goa Kreo. Seiring berjalannya waktu, masyarakat percaya bahwa kera yang berada dikawasan Goa Kreo memiliki sebuah keterikatan sejarah. Mereka adalah sebuah keturunan 4 kera yang membantu Sunan Kalijaga. Demi melestarikan budaya yang ada di sana, maka setiap tahun pasti digelar Mahakarya Legenda Goa Kreo.

Harapan dengan digelarnya tradisi-tradisi seperti ini ialah agar tradisi dan budaya yang ada tetap terjaga dengan baik. Event-event dan Goa Kreo seolah menjadi sebuah paket wisata yang menarik. Wisatawan bisa menikmati destinasi dari berbagai sisi. Alam dan budaya memiliki keeksotisan yang selaras. Komposisi ini membuat destinasi ini selalu menarik untuk dikunjungi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *